ETNOGRAFI KRITIS (TEORI KRITIS+FEMINIS): PENELITIAN ETNOGRAFI UNTUK MEMBEBASKAN PEREMPUAN DARI KETERTINDASAN

Oleh : Sumadi
(Edisi Lengkap dan contoh penelitian Tulisan ini dimuat dalam buku “Nusantara Meneliti: Perespektif Teoretis dan Empiris terbitan Akademia Pustaka, Cet.I 2016,      p. 168-185”

 

Sejarah panjang perkembangan ilmu pengetahuan memang telah dikuasai oleh perspektif patriarki yang menempatkan laki-laki secara istimewa. Sebaliknya perempuan diletakan pada posisi yang tersubordinasi. Ilmu-ilmu sosial, eksak, humaniora, komunikasi, kajian agama dan lain-lain dipandang turut serta melanggengkan budaya patriarki dengan menempatkan pemihakan secara istimewa pada laki-laki.

Dominasi budaya patriarki secara ontologis adalah sebuah paradigma terhadap manusia dalam proses penelitian menempatkan laki-laki sebagai episentrum eksistensi kehidupan. Berbagai masalah dalam kajian ilmu perspektif dasarnya berpusat pada struktur budaya yang mendiskriminasi perempuan. Prosedur kebenaran didasarkan pada perspektif kepentingan laki-laki. Oleh karena itu implikasinya, ilmu lebih didasarkan pada nilai yang memenangkan laki-laki dan memarjinalkan perempuan. Ilmu memberikan sosialisasi yang panjang dan sistematis membentuk peradaban yang patriarkal. Respon atas pengembangan ilmu pengetahuan tidak ramah atas perempuan, tahun 1960 munculnya gerakan feminis di Amerika dan Eropa untuk memperjuangkan epsitemologi berkesetaraan. Perkembangan dunia ilmu pengetahuan mulai memiliki kesadaran untuk memasukan perspektif perempuan menjadi bagian penting dalam pembaharuan ilmu pengetahuan. Gerakan feminis ini telah memengaruhi teori dan model penelitian dalam berbagai ilmu pengetahuan seperti dalam ilmu komunikasi, sosiologi, sejarah, filsafat (Crawford, 2003: Journal of Pragmatics 35, p.114) termasuk dalam berbagai kajian Islam.

            Bab ini akan mengkaji epistemologi kritis sebagai basis perspektif femisnis dalam sebuah pengembangan disiplin ilmu pengetahuan, etnografi kritis sebagai salah satu model penelitian kritis, dan penelitian etnografi kritis yang berperspektif feminis sebagai epistemologi yang membebaskan.

 

Etnografi Kritis (Teori Kritis+Feminis)     

              Salah satu jenis penelitian kualitatif adalah model penelitian etnografi (Mulyana, 2008: 161). Pada awalnya etnografi merujuk pada dua hal yang sebenarnya berbeda, yakni: (a) metode penelitian; (b) hasil penelitian atau hasil kajian (study). Dalam arti metode, menurut Maanen (Pawito:2007:150) istilah etnografi diartikan sebagai “field work” (arternatively, participant observation) conducted by a single investigator who lives with and lives like those who are studied, usually for a year or more” (penelitian lapangan, dengan kata lain observasi terlibat, yang dilakukan oleh peneliti yang untuk itu ia tinggal bersama dan hidup sebagaimana layaknya orang diteliti untuk waktu satu tahun atau lebih. Potter menjelaskan bahwa (1996 dalam (Frey And Cissna, 2009: 130)

ethnography can be divided into two basic orientations (1) macroethnography (also called holistic or general ethnography), in which researchers seek to explain the workings and worldview of a culture; and (2) microethnography,which focuses more narrowly on particular behaviors or symbols within a cultural group.

 

Geertz (1983, dalam West dan Turner, 2008:323) menyatakan bahwa dalam penelitian etnografi sebuah keseimbangan dalam mengamati secara natural dan mencatat perilaku dan mengintegrasikan nilai-nilai peneliti. Geertz menambahkan pernyataannya bahwa triknya adalah untuk memahami apa yang mereka pikir akan mereka lakukan. Oleh karena itu etnografi dipahami sebagai penjelasan untuk memahami mengenai lapisan-lapisan rumit dari makna yang mendasari budaya. Lazimnya etnografi bertujuan menguraikan sebuah latar budaya secara menyeluruh baik yang bersifat abstrak seperti kepercayaan, sistem nilai, dan norma suatu kelompok yang diteliti dan yang bersifat artefak seperti  budaya seperti pakaian, bangunan, dan sebagainya (Mulyana, 2008:161).

Norman Denzin (1989 dalam Denzin & Lincoln, 2009 : 55) seorang tokoh postmodern dalam pendekatan etnografi memberikan saran bagi kaum etnografer kontemporer bahwa mereka harus meleburkan diri ke dalam kehidupan subjek yang diteliti dan setelah memperoleh pemahaman yang mendalam tentang subjek yang tersebut melalui upaya yang sungguh-sunguh menghasilkan reproduksi dan interpretasi kontekstual terhadap kisah/penjelasan yang disampaikan oleh subjek yang diteliti. Terakhir, laporan etnografis hendaknya menyajikan sintesis padu antara pengalaman dengan teori.

Penelitian etnografi menurut Ellingson (2009) pada awalnya digunakan untuk penelitian ilmu-ilmu sosial tentang masyarakat dan budaya  dalam  sebuah   masyarakat  (Frey And Cissna, 2009: 129).   Tetapi    dalam perkembangannya para ilmuwan menyusun etnografi sebagai sebuah proses penelitian untuk menggambarkan dan menginterpretasikan ekspresi manusia dalam sebuah grup atau organisasi (Neyland, 2008:2, Frey And Cissna, 2009: 129).

Penelitian etnografi kritis, yaitu etnografi konvensional sebagaimana penjelasan di atas dan dilanjutkan analisis terhadap makna yang mendasari dalam budaya  tersebut dengan perspektif feminis sebagai alat analisisnya menggunakan gender. Secara historis metode etnografi telah digunakan baik oleh kalangan antropolog maupun sosiolog (Mulyana, 2008:162). Kerangka utama pihak-pihak yang telah menggunakan metode etnografi kritis adalah metode konvensional. Tetapi prinsip-prinsip yang digunakan etnografi pada generasi awal tidak digunakan lagi oleh kalangan pakar etnografi kontemporer. Transformasi masyarakat dan kesadaran secara sosial dan historis di dunia modern menjadi dasar penghapusan terhadap landasan-landasan teoretis dan nilai etnografi sebelumnya (Denzin & Lincoln, 2009: 50).

Oleh karena itu, etnografi pada saat ini dipandang tidak lagi harus membaktikan diri pada kepentingan teori yang mengarah pada lenyapnya etnik-etnik di dunia. Etnografi tidak harus menggambarkan kedamaian hidup di pedesaan, memproklamirkan keunggulan moral, atau mendokumentasi rasa aman psikis yang diyakini bakal ditemukan didesa-desa buta aksara, masyarakat-masyarakat kuno, bangsa-bangsa kuno, masyarakat kecil di pedalaman rimba dan hutan atau dikota-kota kecil. Etnografi tidak lagi harus memetakan secara akurat posisi masing-masing kelompok tradisional dan didasarkan pada status yang ditetapkan secara sosiokultural.

Secara explisit Sarantakos (1998) dan Thomas (1993, dalam Daymon dan Holloway, 2008:205) membagi etnografi menjadi dua jenis, yaitu Entografi deskriptif atau etnografi konvensional dan etnografi kritis. Etnografi deskriptif berfokus pada deskripsi tentang komunitas, organisasi atau kelompok, atau masyarakat. Melalui analisis, etnografi deskriptif mengungkapkan pola, tipologi, dan kategori, sedangkan etnografi kritis, melibatkan diri kajian terhadap faktor-faktor sosial seperti ketidakadilan, ketimpangan, kekuasaan, dan meneliti asumsi-asumsi akal sehat seperti gender.

Paradigma penelitian etnografi kritis menurut Jurgen Habermas (1971, dalam Madison, 2005:6) berdasar pada tiga sudut pandang, yaitu :

Pertama, natural science model of empirical analysis, yaitu dunia sosial yang dapat diukur, diprediksi, dan diuji sebagai fenomena kehidupan dalam ilmu alam yang dapat dilakukan pengukurannya secara objektif oleh peneliti.

Kedua, historical and interpretive model, yaitu fenomena sosial digambarkan dan dimaknai yang secara seimbang dan secara filosofis dijelaskan oleh peneliti.

Ketiga, critical theory model, penelitian dalam rangka analisis kehidupan sosial dan memiliki tujuan untuk mengatasi ketimpangan sosial baik secara budaya atau politik. Pandangan yang ketiga yaitu critical theory yang merupakan pangkal lahirnya etnografi kritis. Oleh karena itu para teoretikus etnografi kritis dipandang sebagai “…the doing or the performance of critical theory. It is critical theory in action. Artinya etnografi kritis merupakan penerapan teori kritis dalam sebuah penelitian (Madison, 2005:6).

Etnografi kritis didasari oleh tanggung jawab etis atas proses ketidakadilan aspek tertentu dalam kehidupan masyarakat (Madison, 2005:5). Tanggung jawab etis pada etnografi kritis berdasar pada prinsip-prinsip moral kebebasan manusia dan menyelamatkan ketertindasan umat manusia baik secara budaya, ekonomi, dan politik. Peneliti dengan menggunakan metode etnografi kritis memiliki kewajiban moral untuk memberikan sumbangan terhadap proses pencerahan dan perubahan ke arah kondisi kebebasan dan persamaan derajat (termasuk persamaan dalam pengetahuan). Oleh karena itu peneliti etnografi kritis memberikan pencerahan dan puncaknya dapat melakukan perlawanan terhadap sebuah dominasi dan memiliki misi apa yang harus dilakukan dengan kondisi tersebut.

Hasil dari penelitian etnografi kritis berfungsi dimaksudkan untuk menghasilkan pencerahan dan perubahan pada latar yang diteliti. Misalnya, dengan menyuarakan pihak-pihak yang lemah, pemberdayaan, kritik terhadap dominasi ideologi dan perubahan sosial. Oleh karena itu etnografi kritis memiliki fokus pencerahan, pemberayaan dan sekaligus politis. Sebagai contoh misalnya menjelaskan suatu kelompok yang berhubungan dengan klarifikasi kebutuhannya, kemudian memberikan informasi yang memungkinkan mereka melakukan mampu memfasilitasi perubahan tersebut (Denzin & Lincoln, 2009 : 56).

Etnografi kritis menurut Kinchelue & Miclaren (Denzin & Lincoln, 2009:192) membolehkan metode yang tidak ditempuh oleh etnografi konvensional, hubungan antara pembebasan dengan sejarah, tetapi tugasnya adalah untuk mempertanyakan pengkondisian sosial dan budaya terhadap aktivitas sosial manusia dan struktur-struktur sosiopolitik yang dominan. Etnografi kritis dianalisis secara kritis tidak hanya dari sisi lapangan tetapi juga pada praktek membaca dan menulis data. Pengumpulan data harus memberi jalan agar dapat dilakukan pembacaan ulang representasi dalam setiap bentuknya (Denzin & Lincoln, 2009 : 192). Melakukan penelitian kritis berarti ikut serta dalam proses penciptaan dunia kritis.

Penelitian etnografi kritis dapat dipahami dalam konteks yang bervisi pada pemberdayaan individu-individu. Penelitian kritis sering dikaitkan dengan kungkungan kekuasaan, ketidakadilan atau ideologi tertentu. Kekhususan etnografi kritis membuat prosedurnya memiliki berbagai ciri khas. Ringkasanya penelitian pendekatan kritis merupakan pengejawantahan harapan pada zaman rasio kritis (Denzin & Lincoln, 2009 : 193).

Dengan demikian, penelitian menjadi sebuah usaha transformatif dalam menyempurnakan dan membangun kesadaran emansipatoris. Para peneliti etnografi tradisional berpegang teguh alur aman netralitas, sedangkan para peneliti etnografi kritis memperlihatkan sikap memihak mereka demi memperjuangkan sebuah dunia yang lebih baik. Para peneliti tradisional melihat tugas mereka sebagai pendeskripsian, interpretasi, atau usaha menghidupkan kembali realitas. Sedangkan peneliti kritis memandang penelitian sebagai langkah awal menuju bentuk-bentuk tindakan pencerahan yang dapat memulihkan ketidakadilan dalam bidang tersebut, atau yang terkonstruksikan dalam tindakan penelitian itu sendiri.

Dalam praktik penelitian etnografi kritis adalah pendekatan penelitian yang digunakan untuk membantu,  mencerahkan, dan memberdayakan kelompok-kelompok masyarakat yang termarjinalisasi (Creswell, 2008: 478). Menurut kesimpulan Khorkheimer (1972) menyatakan bahwa etnografi kritis tidak pernah puas pada hasilnya hanya untuk menambah pengetahuan. Di kalangan peneliti kritis ada keyakinan kuat bahwa ideologi bukan hanya relasi mental yang imaginer dan menipu yang dijalani oleh individu dan kelompok terkait dengan kondisi material eksistensi mereka, namun juga tertanam kuat dalam materialitas praktek-praktek sosial (Denzin & Lincoln, 2009 : 174).

Penelitian dengan pendekatan kritis menuntut analisis kritis atas masyarakat (Horkheimer, 1972) dimaksudkan untuk melibatkan kritik yang merupakan upaya intelektual dan pada akhirnya upaya praktis, yang tak puas menerima pemikiran, tindakan, dan kondisi yang ada tanpa pernah memikirkannya dan hanya didasarkan pada kebiasaan. Upaya itu bertujuan mengkoordinasikan sisi sisi kehidupan individual kehidupan sosial satu sama lain dan dengan pemikiran-pemikiran umum serta tujuan epos untuk menyimpulkan mereka secara genetis, untuk memisahkan penampilan luar dari hakikatnya, serta untuk membahas fondasi-fondasi sesuatu, singkatnya untuk benar-benar mengenali mereka (Hardt, 2007: 197).

Etnografi kritis secara historis lahir dari gerakan interpretif dalam antropologi dan sosiologi yang bergabung dengan teori kritis dan feminis. Teori kritis berupaya membebaskan manusia dari dominasi dan tekanan. Critical Ethnography merupakan hasil proses dialektik dari struktur masyarakat berupa kelas sosial, budaya patriarki, gender, dan rasialis (Muhadjir, 2000:320).  Etnografi kritis  oleh Lather (1986, dalam Muhadjir, 2000:320) dianggap sebagai openly ideological research dalam konsep konvensional. Etnografi Kritis sebagaimana penelitian interpretif juga men-generate insights, menjelaskan kejadian dan mencari pemahaman.

Para penganut teori kritis Ethnografi memandang studi etnografi sudah bersifat teoretis dan bersikap netral atas struktur sosial yang ada. Etnografi kritis mencermati bahwa sistem sosial seperti sistem kelas, patriarkat, rasisme, dan ketidakadilan gender bertentangan dengan humanisme. Pemikiran ilmu sosial pada tahun 1960 an mulai menggugat grand theory dan metodologi berfikir yang cenderung memapankan ketidakadilan (Muhadjir, 2000:320).

Sedekah Paling Besar Pahalanya

Dari Abu Hurairah R.a. Berkata: Seseorang Datang Kepada Rasulullah Saw Lalu Bertanya, "Ya Rasulullah, Sedekah Manakah Yang Lebih Besar Pahalanya? Rasulullah Saw Menjawab, "Bersedekah Dalam Keadaan Sehat Sedang Engkau Amat Sayang Kepada Harta Tersebut, Takut Miskin Dan Mengharapkan Kekayaan. Oleh Sebab Itu Jangan Menunda-nunda Sehingga Apabila Ruh (nyawa) Sudah Sampai Di Tenggorokan (hampir Mati) Lalu Engkau Berwasiat Untuk Si Fulan Sekian, Untuk Si Fulan Sekian.

TOP