^ Ke Atas
 
HEADLINE:
2020-12-27 14:02:31 - Wisuda Drive Thru 2020, IAID Luluskan 333 Wisudawan Terbaik <0> 2020-10-19 07:34:14 - Hasil Seleksi Calon Mahasiswa Pascasarjana IAID yang Dinyatakan Lulus Tahun 2020 <0> 2020-10-14 10:12:08 - Tes Seleksi Calon Mahasiswa Baru Program Pascasarjana <0> 2020-08-26 11:56:12 - Seleksi Masuk Program Sarjana (S1) Tahun Akademik 2020/2021 Gelombang 2 <0> 2020-07-29 16:56:08 - Seleksi Masuk Program Sarjana (S1) Tahun Akademik 2020/2021 Gelombang 1 <0>
 

BERITA FOTO

2020-12-03 : Terbaik 1 Se-Jawa Barat Tahun 2020

Sertifikasi Dosen Terbanyak Peringkat 2

2019-11-20 : Peringkat Terbaik I Se Wilayah II Jawa Barat dan Banten

Peringkat Terbaik I Se Wilayah II Jawa Barat dan Banten

Anda berada di: Depan > REKONSILIASI PASCA PILPRES
Rekonsiliasi Pasca Pilpres
Diposting pada: 2014-07-16 13:48:09 | Hits : 3357 | Kategori: Pendidikan
 

Oleh Sumadi
Penekun masalah Kenegaraan dan Keagamaan, Dosen IAID Ciamis.

Semenjak Pemilihan Presiden (Pilpres) secara langsung tahun 2004 dan 2009, Pilpres 2014 merupakan Pilpres yang paling sengit dan emosional.  Faktornya karena hanya terdiri dari dua pasang calon. Berbagai cara dan kreatifitas masing-masing tim sukses Capres dan Cawapres lebih progresif dibanding Pilpres sebelumnya. Hampir-hampir terjadi konflik. Tetapi beruntung konflik yang terjadi hanya pada wilayah wacana. Berbagai tuduhan antara timses dua kandidat dari mulai yang biasa-biasa sampai yang berbau fitnah dan SARA campur aduk menjadi satu. Oleh karena itu harus diakui suasana menjelang pencoblosan sebagai hari tenang malah menjadi hari yang tak tenang. Masing-masing timses menaikan suhu pertarungan pada tingkat yang paling tinggi.

Tetapi bangsa Indonesia telah membuktikan 9 Juli 2014 sebagai hari pencoblosan Capres berjalan tertib, aman, dan kualitas demokrasi tinggi. Presiden Amerika Serikat dari markas Gedung Putih  menyampaikan ucapan selamat atas pelaksanaan Pemilu Presiden (Pilpres) Indonesia. Pilpres 2014 ini dianggap sebagai hal yang bersejarah. Apresiasi Gedung putih ditujukkan dengan pernyataan bahwa Pilpres 2014 di Indonesia dengan tingkat partisipasi pemilih yang tinggi, kampanye dan partisipasi yang kuat dari seluruh rakyat Indonesia, masyarakat madani dan media massa telah menegaskan kuat dan dinamisnya kematangan demokrasi Indonesia. Pihak Gedung Putih menyampaikan bahwa sebagai negara kedua dan ketiga demokrasi terbesar di dunia, AS dan Indonesia memiliki kepentingan dan nilai yang sama. Ini termasuk keyakinan yang kuat terhadap arti penting penghormatan terhadap hak asasi manusia, tata kelola pemerintahan yang inklusif dan persamaan kesempatan bagi setiap individu (international.okezone.com, 10/7/14).

Akan tetapi pelaksanaan pencoblosan yang aman, tertib, dan harmoni pada 9 Juli 2014 terganggu oleh perbedaan hasil hitung cepat Pemilu 2014. Tiap capres saling klaim dan deklarasi kemenangan berdasar masing-masing survei. Setidaknya tujuh dari 11 lembaga survei yang melakukan hitung cepat atau quick count dalam Pemilu Presiden 2014 menyebut pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai pemenang pemungutan suara.  Sebaliknya, empat lembaga survei lain mendapatkan pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa sebagai pemenang. Tujuh lembaga survei itu adalah Litbang Kompas, Lingkaran Survei Indonesia, Indikator Politik Indonesia, Populi Center, CSIS, Radio Republik Indonesia, dan Saiful Mujani Research Center. Sementara itu, empat lembaga survei yang mendapatkan hasil kemenangan bagi Prabowo-Hatta adalah Puskaptis, Indonesia Research Center, Lembaga Survei Nasional, dan Jaringan Suara Indonesia (kompas.com/10/7/14). Dua versi hitung cepat terus dipublikasikan di media elektronik TV secara  besar-besaran. Masyarakat sengaja dibuat bingung. TV berbeda kandidat dukungan capres menang berbeda. Dengan didukung oleh argumentasi masing-masing timses. Pesta kedua kelompok atas kemenangan dimulai. Artinya jika situasinya terus dipelihara dikhawatirkan akan memicu konflik yang masif.

 

Rekonsiliasi Secepatnya

Penetapan Capres dan Cawapres terpilih oleh KPU masih perlu beberapa hari ke depan yaitu tanggal 22 Juli 2014, dengan makin panasnya saling klaim kemenangan, maka diperlukan rekonsiliasi kedua kubu masing-masing Capres secepatnya. Rekonsiliasi yang dapat dilakukan di antaranya:

Pertama, harus ada uji kredibilitas secepatnya terhadap lembaga hitung cepat atau quick count. Mana yang kredibel dan yang abal-abal. Sebagai sebuah metode ilmiah survei dapat dipercaya, dan tidak menghasilkan perbedaan survei. Jika terjadi perbedaan, secara teoretik berarti ada yang salah dalam metode dan etik kejujuran. Salah satu fungsi ilmu itu adalah memprediksi. Semestinya metode hitung cepat akurat dan dapat dipercaya sesuai kaidah-kaidah ilmiah. Ketidakjujuran survei akan menjadi sumber konflik dan penghianatan terhadap dunia ilmu. Jika lembaga survei beres, maka rekonsiliasi justru akan cepat diselesaikan. 

Kedua, semua pejabat publik dari mulai menteri, gubernur, Bupati/Wali kota, dan lainnya kembali pada tugasnya melayani masyarakat. Para pejabat publik seharusnya jangan sampai masuk pusaran konflik yang saling mendukung antar dua calon. Konsekuensi dari pejabat publik yang terlena pada pusaran konflik akan mendorong konflik yang rumit di tengah-tengah masyarakat. Para pendukung dan masyarakat akan menjadikan perikalu politik pemimpinnya untuk dijadikan dasar sikapnya. Oleh karena itu perilaku dan ucapan para elit yang menyejukan dan menujukkan sikap kenegarawanan akan berpengaruh terhadap kondusivitas masyarakat yang dipimpinnya. Begitu pula sebaliknya tindakan dan ucapan yang provokatif dari para pemimpin akan menjadikan situasi tidak kondusif.

Ketiga, tokoh agama dan masyarakat sebaiknya menampilkan peran perdamaian dan hidup rukun. Pemahaman bahwa demokrasi adalah sirkulasi kepemimpinan yang harus ditempuh untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Hanya demokrasi yang berbasis pada keadilan dan kepastian hukum yang akan dapat memperbaiki kesejahteraan masyarakat. Selain itu demokrasi juga membutuhkan kedewasaan dan kenegarawanaan semua pihak. Perbedaan pendapat dalam pilihan harus berakhir pasca pencoblosan. Masyarakat lalu bergembira menyaksikan penghitungan suara tanpa ada huru-hara.

Keempat, media masa cetak dan elektronik harus menempatkan diri pada posisinya yang proporsional. Keunikan Pilpres 2014 dibandingkan dengan sebelumnya melahirkan madzab media. Setidaknya ada tiga media yang berkembang di tengah-tengah masyarakat, yaitu media netral, media Prabowo Hatta, dan media Jokowi-JK.  Artinya berbagai media baik elektronik ataupun cetak telah melakukan pemihakkan yang berlebihan yang menampilkan berita tidak seimbang sesuai dengan prinsip-prinsip jurnalistik. Dua kubu media yang tidak netral telah menampilkan sisi keunggulan calonnya dan membuka selebar-lebarnya kelemahan lawannya. Dari mulai masalah yang pribadi sampai publik dikuliti oleh masing-masing calon. Tidak jarang bahkan media juga terjebak pada masalah-masalah yang berbau fitnah diangkat di media. Konsekuesni negatifnya media akhirnya juga rugi sendiri. Begitu Pilpres selesai media yang memuat berita-berita yang cenderung bohong dan fitnah tidak lagi mendapat tempat di masyarakat.

Oleh karena itu bagi media yang proporsional dan netral termasuk kategori media yang menjadi episentrum suksesnya demokratisasi di negeri ini. Sebaliknya bagi media yang telah melakukan pemihakan yang berlebihan dengan menampilkan berbagai berita yang cenderung provokatif dan adu domba, maka segera bertaubat kembali pada prinsip-prinsip jurnalistik yang benar. Sebagaimana terdapat dalam khazanah literatur dan pengalaman politik di Negara-negara di dunia bahwa pers merupakan salah satu pilar penting tegaknya demokrasi. Pilar-pilar yang roboh harus bangkit lagi. Yang telah berdiri harus makin kokoh jangan samapai tergoda wilayah pragmatis. Dengan cara itu pers dan media akan dapat segera membantu memulihkan rekonsiliasi pasca Pilpres 2014.

Akhirnya semoga kita semua dapat menjadi teladan dunia sebagai gurunya demokrasi dunia dengan mengkahiri pilpres damai dan bahagia. Amin

 

Posting Lainnya:

KOMENTAR

« Kembali

MUTIARA HADIST
Menikahlah Dengan Lurus Sahabatku :) :
Rasulullah SAW Bersabda, "Barang Siapa Yang Menikahi Seorang Wanita Karena Kedudukannya, Maka Allah Tidak Akan Menambahkan Baginya Kecuali Kehinaan. Barang Siapa Yang Menikahi Seorang Wanita Karena Kekayaannya, Maka Allah Tidak Akan Menambahkan Baginya Kecuali Kefakiran." Beliau Melanjutkan, "Barang Siapa Yang Menikahi Seorang Wanita Karena Kemuliaan Nasabnya, Maka Allah Tidak Akan Menambahkan Baginya Kecuali Kerendahan. Dan, Barang Siapa Yang Menikahi Seorang Wanita Dan Ia Tidak Menginginkan Kecuali Supaya Dapat Menundukkan Pandangan Dan Menjaga Kemaluannya Atau Menyambung Tali Silaturahim, Maka Allah Akan Memberkahi Mereka Berdua."